OYASUMINASAI



Kala itu, gelap memaksa masuk, dan mengusir terang.
Awan-awan hitam berkumpul seakan membuat senja kehilangan indahnya.

Sorot mata dari orang itupun terlihat jauh memandang entah kemana, dari atap bangunan tua. Semakin jelas, bahwa mati rasalah yang terpancar darinya ketika melihat pemandangan kota yang terlihat berkaca-kaca dari atas sana.

Hanya kehampaan yang ada di dalam jiwanya. Hanya kesedihan yang ada di masa lalunya. Dan hanya keputusasaan yang sekarang menemaninya.

Dia sudah menyadari, bahwa dirinya sudah 'mati' dari jauh-jauh hari.
Dan kini, diri itu hanya tinggal senggok daging berbentuk manusia.
Dimana harapan, mimpi, kenangan dan semua yang ia punya sudah ia buang bersama masa lalunya yang ia sesalkan.

Kekosongan yang ada di hatinya itu, ia isi dengan kesepian, dan ketidakpuasan akan dirinya.
Mungkin itulah alasan kenapa malam ini ia berdiri di atas sana.

Benar atau salah, tidak ada jawabannya.
Mereka hanya akan menilai dari satu sudut pandang.
Tidak ada toleransi, tidak ada pemahaman, tidak ada pengertian karena keadaannya tidak pernah mereka rasakan.

Mau suka atau duka. Caci atau simpati. Ia sudah tidak peduli.
Apapun yang mereka katakan, hanya ada satu kata balasan. Persetan!

...

Hanya tinggal beberapa detik untuk ia memutuskannya.
Akhiri, atau diakhiri. Keduanya sama saja. Tidak ada pilihan.

Apa kau tahu kenapa bintang selalu disimbolisasikan dengan harapan, atau mimpi?
Menurutnya, itu karena kau takkan pernah bisa mencapainya.
Kau tidak akan pernah sampai kepadanya. Sangat jauh sampai kau sadar bahwa itu adalah titik jenuh.

..

Untuk terakhir kalinya, ia rasakan hembusan angin yang menggebu.
Ia saksikan gelap malam yang kelabu.
Ia hempaskan ketidakpuasannya yang beribu-ribu.
Ia relakan walaupun hatinya tetap menggerutu.

Kini, pemandangan kota yang ia lihat kian mendekat. Menyeruak sampai matanya tak sanggup untuk melihatnya.
Keputusasaan itu akhirnya lenyap.  bersamaan dengan suara yang menjadi pertanda bahwa ia telah mengakhirinya.

Mau itu Kesedihannya, mau itu  keputusasaannya, atau mungkin kesepiannya, bahkan ketidakpuasaannya, juga kehampaannya, kini telah menghilang. Tentu saja bersamaan dengan kesadarannya.

"おやすみなさい。"

1 Response to "OYASUMINASAI"